Minggu, 28 Mei 2017

ETIKA DALAM PURANA


Etika dan moral dalam Visnu Purana
Berkontemplasi dapat diartikan sebagai upaya untuk merenungkan secara mendalam dengan kebulatan penuh tentang hakekat seusatu hal. Dalam konteks ini, tentu merenungkan secara mendalam nilai yang terkandung dalam penggalan kisah Itihasa dan Purana yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya. Berkaca pada karakter anak-anak suputra itu, kita dihadapkan pada persoalan idealisme dalam penerapan ajaran yang terkandung di dalamnya. Itihasa merupakan kitab sejarah, sedangkan Purana didominasi oleh mitologi untuk menyampaikan ajaran agama Hindu. Saraswati ( 2009: 251) menyatakan bahwa Purana dapat dikatakan sebagai “Kaca Pembesar” dari Veda karena kitab-kitab tersebut memperbesar citra-citra kecil menjadi gambar-gambar besar. Ajaran Veda yang tercantum dalam pernyataan-pernyataan kecil diperbesar dan dielaborasi dalam bentuk cerita atau anekdot di dalam Purana.
 “Dalam Visnu Purana dikisahkan seorang Raja Bharata penganut Visnu yang sangat setia dan saleh. Pada suatu hari ia mandi di sungai, ketika ia sedang mandi ada seekor kijang yang sedang hamil dating dari hutan belantara pada saat yang sama raungan lantang seekor singa terdengar menggelegar di tempat itu sehingga membuat kijang ketakutan dan meloncat sangat kuat akibatnya bayi yang dikandungnya lahir dan ia sendiri mati. Bharata mengambil anak kijang itu dan membesarkannya ditempat pertapaan. Semenjak memelihara anak kijang itu perhatiannya hanya kepadanya, satu-satunya yang dipikirkan adalah anak kijang itu dan tidak perduli terhadap orang lain. Ketika akhirnya sang Barata meninggal dunia, karena selalu memikirkan anak kijang ia pun terlahir kembali berwujud seekor kijang. Didalam kehidupannya sebagai menjangan dia juga tetap menyembah Sang Hyang Visnu dan mengabdikan dirinya dengan latihan-latihan spiritual dan melakukan pertobatan. Hingga pada kelahiran berikutnya, ia terlahir kembali sebagai seorang putra brahmana yang saleh”.
Rama dilukiskan dalam kalimat singkat “Maryadapurusottama” yakni seseorang yang memiliki kebajikan, semua sifat-sifat mulia yang memancar dari pribadinya (Titib, 2011: 152). Sri Rama adalah personifikasi dari kebenaran, kemuliaan, kebaikan, kerendahan hati, dan keberanian. Sebagai seorang putra dari raja yang mulia dan baik, ia mengorbankan kehidupan pribadinya untuk membantu ayahnya memenuhi janjinya kepada istrinya Kekayi. Setelah kepergian Rama ke hutan, Dasaratha semakin menderita hingga ajal menjemputnya. Itu tidak lepas dari perbuatannya di masa lalu ketika ia tidak sengaja membunuh seorang pertapa muda bernama Sravana Kumara. Ia membunuhnya karena mengira ada seekor gajah sedang minum air di sebuah telaga, yang tidak lain adalah pertapa muda itu. Ia dikutuk oleh ayah pertapa itu bahwa ia juga akan mati dengan cara yang sama yakni berpisah dengan anaknya. Sravana Kumara adalah sosok anak suputra. Kedua orang tuanya yang buta menggantungkan hidup mereka kepadanya. Ia menggendong kedua orangtuanya kemanapun mereka ingin pergi, mengunjungi tempat suci dan sebagainya. Hingga kedua orangtuanya memilih untuk mati ketika tau anak kesayangannya telah tewas di tangan Dasaratha. Kisah itu memberikan kita gambaran kesetiaan dan pengabdian serta bhakti seorang anak kepada orangtuanya yang buta. Ia sama sekali tidak menelantarkan orangtuanya, bahkan mengabdikan seluruh hidupnya demi orangtuanya. Karakter itulah yang patut diteladani. Terpenting adalah peran orangtua menyampaikan ajaran penuh makna ini kepada anak-anak mereka, karena keluarga adalah pondasi dari pendidikan karakter yang baik.


PURANA: पुराण


A. Pengertian
Purana berarti "cerita zaman dulu") adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata Purana berarti sejarah kuno atau cerita kuno. Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini, Purana-Purana itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan, karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda.
Kata Purana berarti "purba" (ancient). Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta, garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci, dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). Beberapa dari Purana-Purana itu, seperti Mahabbhagawatam, mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang .
Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu, delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri, tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi, oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Dari duapuluh Purana ini, enam ditujukan kepada Wishnu, enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab." Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu, mahluk supernatural, orang suci dan manusia biasa. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis, tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam. 

B. Tujuan
Swami Sivananda dalam bkunya All About Hinduism yang telah diterjemahkan dalam bahasa indonesia dengan judul Intisati Agama Hindu (1993:26) menyebutkan tujuan dari kitab Purana antara lain :
1. Mempopulerkan ajaran agama yang bersumber dari Veda
2. Memudahkan diserapnya ajaran suci Veda oleh Amat yang awam, untuk membangkitkan mereka akan rasa bhakti lepada para dewata melelui contoh-contoh kongrit, mitos, cerita-cerita, legenda, kehidupan rang-orang suci, para raja dan orang-orang besar, cerita kias dan rangkaian sejarah dari kejadian-kejadian besar.
3. Untuk melukiskan prinsip-prinsip agama yang abadi.
4. Untuk meghantarkan seseorang mencapai kesempurnaan sejati.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka tujuan disusunnya kitab Purana pada hakekatnya sama dengan tujuan agama Hindu yaitu untuk mencapai jagadhita (kesejahteraan jasmani) dan moksa (kebahagiaan spiritual yang abadi)

C. Manfaat
1. Pustaka ( literary significance) Dari sudut pandang pustaka, kitab itihasa dan purana mengandung makna yang sangay penting. hampir semua pengarang(rakawi) Sangat tergantung dan mendapat infiráis dari karya sastra ini. Artinya semua karya sastra yang dibuat tidak terlepas dari karakter Itihasa dan Purana
2. Sebagai Ensiklopedi. Kitab Itihasa dan Purana merupakan ensiklopedi abadi yang tidak kan pernah mati tertelan jaman serta merupakan dokumen social keagamaan pada masa lalu yang didalamnya dapat ditemukan segala jenis pengetahuan, baik yang sifatnya sains maupun spitirual.
3. Sejarah (historical significance).Data yang diungkapka dalam karya sastra diatas Sangay penting bagi penyusunan sejarah. Hal ini dapat dibuktikan dari silsilah raja-raja, seperti candrawamsa yang menurunkan pandada dan korawa yang merupakan keturunan dari dinasty kuru yang hidup di India utara ribuan tahun yang lalu.
4. Kebudayaan (Culture significance). kitab itihasa dan purana merupakan potret yang asli dari kebudayaan dan peradaban umat manusia.
5. Agama (religión significance). Kitab Itihada dan Purana merupakan Veda kelima yang disebutkan dalam Candogya Upanisad VII.1.2 yang berbunyi “itihasapuranam pancamam vedanam vedam”
6. Social ( social significance). Ajaran kitab Itihasa dan Purana mengandung ilmuilmu social ( social sciences) baik yang berkaitan dengan moralitas, pendidikan, seksualitas dan lanilla yang dapat dikaji secara lebih mendalam.
7. Politik (political science) dalam kitab ini memuat ilmu-ilmu ekonomi dan politik yang hubungannya dengan kesejahteraan manusia yang didasari dengan drama.
8. Geografi (geografical significance). dalam kitab Itihasa dan Purana juga dijumpai ilmu pengetahuan tentang geografi, seperti ilmu topografi dan lain-lain
Berdasarkan kutipan tersebut, maka kitab purana mempunyai peranan dan manfaat yang Sangat besar dalam khasanah Veda dan susastra Hindu dan menjadi rujukan bagi para sarjana untuk lebih mengkaji secara lengkap.