Etika dan moral dalam Visnu Purana
Berkontemplasi dapat diartikan sebagai upaya
untuk merenungkan secara mendalam dengan kebulatan penuh tentang hakekat
seusatu hal. Dalam konteks ini, tentu merenungkan secara mendalam nilai yang
terkandung dalam penggalan kisah Itihasa dan Purana yang telah diuraikan pada
pembahasan sebelumnya. Berkaca pada karakter anak-anak suputra itu, kita
dihadapkan pada persoalan idealisme dalam penerapan ajaran yang terkandung di
dalamnya. Itihasa merupakan kitab sejarah, sedangkan Purana didominasi oleh
mitologi untuk menyampaikan ajaran agama Hindu. Saraswati ( 2009: 251)
menyatakan bahwa Purana dapat dikatakan sebagai “Kaca Pembesar” dari Veda
karena kitab-kitab tersebut memperbesar citra-citra kecil menjadi gambar-gambar
besar. Ajaran Veda yang tercantum dalam pernyataan-pernyataan kecil diperbesar
dan dielaborasi dalam bentuk cerita atau anekdot di dalam Purana.
“Dalam Visnu
Purana dikisahkan seorang Raja Bharata penganut Visnu yang sangat setia dan
saleh. Pada suatu hari ia mandi di sungai, ketika ia sedang mandi ada seekor
kijang yang sedang hamil dating dari hutan belantara pada saat yang sama
raungan lantang seekor singa terdengar menggelegar di tempat itu sehingga
membuat kijang ketakutan dan meloncat sangat kuat akibatnya bayi yang
dikandungnya lahir dan ia sendiri mati. Bharata mengambil anak kijang itu dan
membesarkannya ditempat pertapaan. Semenjak memelihara anak kijang itu
perhatiannya hanya kepadanya, satu-satunya yang dipikirkan adalah anak kijang
itu dan tidak perduli terhadap orang lain. Ketika akhirnya sang Barata
meninggal dunia, karena selalu memikirkan anak kijang ia pun terlahir kembali
berwujud seekor kijang. Didalam kehidupannya sebagai menjangan dia juga tetap
menyembah Sang Hyang Visnu dan mengabdikan dirinya dengan latihan-latihan
spiritual dan melakukan pertobatan. Hingga pada kelahiran berikutnya, ia
terlahir kembali sebagai seorang putra brahmana yang saleh”.
Rama dilukiskan dalam kalimat singkat
“Maryadapurusottama” yakni seseorang yang memiliki kebajikan, semua sifat-sifat
mulia yang memancar dari pribadinya (Titib, 2011: 152). Sri Rama adalah
personifikasi dari kebenaran, kemuliaan, kebaikan, kerendahan hati, dan
keberanian. Sebagai seorang putra dari raja yang mulia dan baik, ia
mengorbankan kehidupan pribadinya untuk membantu ayahnya memenuhi janjinya
kepada istrinya Kekayi. Setelah kepergian Rama ke hutan, Dasaratha semakin
menderita hingga ajal menjemputnya. Itu tidak lepas dari perbuatannya di masa
lalu ketika ia tidak sengaja membunuh seorang pertapa muda bernama Sravana
Kumara. Ia membunuhnya karena mengira ada seekor gajah sedang minum air di
sebuah telaga, yang tidak lain adalah pertapa muda itu. Ia dikutuk oleh ayah
pertapa itu bahwa ia juga akan mati dengan cara yang sama yakni berpisah dengan
anaknya. Sravana Kumara adalah sosok anak suputra. Kedua orang tuanya yang buta
menggantungkan hidup mereka kepadanya. Ia menggendong kedua orangtuanya
kemanapun mereka ingin pergi, mengunjungi tempat suci dan sebagainya. Hingga
kedua orangtuanya memilih untuk mati ketika tau anak kesayangannya telah tewas
di tangan Dasaratha. Kisah itu memberikan kita gambaran kesetiaan dan
pengabdian serta bhakti seorang anak kepada orangtuanya yang buta. Ia sama
sekali tidak menelantarkan orangtuanya, bahkan mengabdikan seluruh hidupnya
demi orangtuanya. Karakter itulah yang patut diteladani. Terpenting adalah
peran orangtua menyampaikan ajaran penuh makna ini kepada anak-anak mereka,
karena keluarga adalah pondasi dari pendidikan karakter yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar